Keluarga

Delapan Tahun Kepergian Simbok

11 Oktober 2020

11 Okt 2012 – 11 Okt 2020

Hari ini, 8 tahun lalu, adalah momen paling sedih dalam hidup saya. Hari ini, 8 tahun lalu, Mbah Sastro meninggalkan kami. Untuk selamanya.

Delapan tahun kepergian Simbok.

Simbah yang biasa kupanggil Simbok itu pergi setelah beberapa minggu dirawat di RS JIH. Melawan sakit komplikasi. Usia yang sudah tua, ditambah beberapa penyakit membuatnya tak mampu bertahan meskipun dokter sudah berusaha memberikan yang terbaik. Qodarullaah.. Innaalillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun..

Simbok, dialah perempuan yang selalu kurindukan setiap hari. Saya hidup dan tinggal serumah bersamanya cukup lama. Bisa dibilang, saya adalah cucu yang paling lama tinggal di rumahnya, setelah kakak pertama saya, yang lebih dulu tinggal serumah dengan Simbok.

Saya bersama Simbok dan cucu-cucu Simbok yang lain. Saat ini, hampir semua cucu Simbok sudah menikah dan punya anak.

Masa kecil dulu saya habiskan di rumah Simbok. Hingga usia 7 tahun saya harus ikut orang tua pindah ke rumah baru.

Saat usia SMP, saya pun masih sering datang dan pergi ke rumah Simbok. Setiap hari libur saya menginap di rumahnya. Lalu keesokan paginya saya diajak Simbok yang membawa tenggok, berjalan kaki ke pasar Gowok untuk berbelanja. Sungguh memori yang indah sekali.

Kelas 2 SMA, selama setahun saya kembali tinggal bersama Simbok. Banyak hal yang membuat rumah Simbok dan Pringwulung menjadi tempat yang membuat saya nyaman saat itu. Rumah Simbok yang dekat dengan masjid, luas, dan tenang membuat saya betah tinggal disana. Teman-teman dekat saya pun banyak di Pringwulung. Itu juga yang membuat saya senang berada di Pringwulung.

Susana di dalam rumah Simbok. Dari saya kecil hingga saat ini, tidak ada yang berganti, masih sama seperti dulu.

Akhir kelas 2 SMA, saya harus kembali pulang ke rumah untuk mempersiapkan ujian naik ke kelas 3. Mau tak mau, saya harus meninggalkan Simbok. Sedih sekali saat itu, karena saya sudah terlanjur nyaman hidup dengan Simbok. Dan alhamdulillaah, sepertinya Allah mendengar doa saya yang masih ingin tinggal dengan Simbok. Tahun 2003 setelah lulus SMA dan saya diterima kuliah di UGM, saya kembali tinggal serumah dengan Simbok. Saat itu saya senang sekali…

Tahun 2003 hingga tahun 2010 saya habiskan kembali masa-masa kehidupan saya di rumah Simbok, hingga saya menikah. Mungkin kalau ditotal, 15 tahun saya serumah dengan Simbok. Sampai-sampai saya dibilang anak Simbok, ajudan Simbok, tangan kanan Simbok, dan julukan-julukan lainnya. 😅

Hal yang selalu menyenangkan adalah membayangkan kembali masa-masa saya bersama Simbok. Meskipun saya adalah cucu yang paling sering kena omelannya, tapi saya rasa, saya jugalah cucu yang paling dekat dengannya. Saking dekatnya, saat Simbok sakit, Simbok hanya mau saya yang nyeboki, yang siapkan obat dan makannya. Ah, Simbok… Saat-saat engkau sakit, betapa lelahnya cucumu ini, Mbok. Tapi sekarang, saat-saat itulah yang sangat kurindukan.. 😔

Seringkali bila saya rindu berat dengan Simbok, saya memejamkan mata, membayangkan saya berada di rumah Simbok. Membayangkan setiap sudut rumahnya. Membayangkan obrolan-obrolan kami dulu, yang seringkali malas saya timpali, tapi saat ini saya sadari, itulah precious moment. Masa-masa berharga yang tak akan pernah sanggup saya ulangi lagi.

Semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik, Mbok. Semoga dengan kasih sayang Allah, suatu saat kita bisa bertemu lagi, di surga-Nya. Aamiin.. Allahummagfirlaha warhamha wa’afihi wa’fu’anha.. Aku kangen, Mbok…

Setahun setelah kepergian Simbok, saya mengajak anak dan suami mengunjungi makamnya. Melepas kangen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *