Rasan-Rasan

PHK, Enjoy Aja! [Part – 2]

Melanjutkan lagi bahasan PHK kemarin…

Memang perjalanan cerita selama tujuh bulan suami kena PHK ini bakalan panjang kalau diceritakan. Memutuskan menuliskannya pun butuh waktu. Ambil timing yang pas. Pas semua sudah kembali stabil dan cerita ini bisa dibagikan tanpa harus pakai drama saat ngetik. Pas punya karep. Dan pas semuanya sudah kembali baik-baik saja. Bi’idznillaah. No more drama queen lah. Kan kami team #baqoh. 🤣

Dan, inilah dia beberapa tips yang kami lakukan agar tetap bisa enjoy saat suami terkena PHK. Cekidot…

Previous PartKlik disini

Sedih Boleh, Nglokro Jangan

Gimana rasanya suami kena PHK? Ini sih nggak usah ditanya lagi ya, kebanyakan istri pasti syedih-syedih gimana gitu. Bo’ong kalau enggak. Apalagi istri yang hanya mengandalkan gaji suami buat beli kebutuhan hidup sehari-hari, macam eike. Wkwkwkwk. Lha duit dodolan onlen dikemanain? Ya syuka-syuka saya kalau itu sih, suami nggak pernah minta duit saya. Dan yang jelas bukan buat nyukupin kebutuhan yang sudah ditanggung suami. Hihi… #padunyamaungakubuatjajanmalu

Saat itu, sore hari yang syahdu. Suami menerima tamu, atasannya, tapi bukan owner perusahaan. Di teras mereka berbincang. Eh, jebulnya sang atasan hanya mau mengabarkan kalau perusahaan mereka bekerja akan ditutup karena Corona. Hiks…

Awal dengar cerita ini dari suami, sempat terlintas, ‘Weh, tenane? Mosok sih?’. Rasa nggak percaya gitu.  Tapi nyata. 🤣

Satu dua hari rasanya masih nggak percaya. Nah, selang beberapa hari baru mulai bisa menerima. Hmm… Ya wajarlah kalau seseorang kena PHK di situasi pandemi begini. Apalagi pandemi ini berimbas sekali pada perusahaan-perusahaan besar. Banyak perusahaan diprediksi collaps besar-besaran ‘kan sejak awal pandemi? Cmiiw. Yang terpenting adalah jangan sampai nglokro hanya karena tertutupnya satu keran penghasilan. Insya Allah nanti juga Allah akan buka keran-keran penghasilan lain, yang lebih baik. Harapannya sih gitu. So, sedih karena (suami) kena PHK itu boleh, tapi jangan sampai nglokro. Betul kan, Nyisanak?

Motivasi

 

Padahal, imbas dari PHK ini nggak kurang-kurang deh kalau mau dijadikan alasan untuk nglokro. Sudahlah gaji bulanan suami lenyap, menjelang Ramadhan pula. Lebaran nggak ada lagi THR. BPJS Kesehatan yang telah secara rutin dan istiqomah motongin gaji suami selama 8 tahun pun di-OFF-kan, alhasil nggak bisa dipakai saat benar-benar dibutuhkan. 😴  Lengkaaappp sudah penderitaan… 🤣

 

Alhamdulillah, sekarang tinggal kenangan penuh hikmah. Maasya Allah.

Setelah menerima semua musibah itu dengan memperbanyak syukur dan istighfar, yawis, yang bisa dilakukan hanya terima nasib. Nasib sebagai istri karyawan swasta. Sewaktu-waktu kontrak kerjanya bisa diakhiri begitu saja. Tapi, yakinlah bahwa cintaku pada anak lelaki mertuwaku tak akan mudah diakhiri hanya karena PHK. Eeaa…

 

Mengevaluasi Kembali Manajemen Keuangan Keluarga

Nah, salah satu pelajaran penting dari PHK ini adalah kami jadi bisa belajar lagi tentang manajemen keuangan keluarga. Satu hikmah pentingnya adalah : “Menej duit sendiri itu lebih susah daripada menej duit orang lain.”

Beneran lho… Godaan untuk make duit buat ini-itu tuh seperti datang dari segala penjuru. Kayak ada bisikan-bisikan, “Belanjaaa.. Belanjaa… Belanjaa…”  😂

Punya duit tabungan nganggur gitu rasanya pengen dibelanjakan mulu. Padahal ya belanjanya kadang nggak urgent-urgent amat. For example, belanja onlen ajalah. Dulu sebelum kena PHK sebulan bisa ngabisin 500 ribu hanya buat beli-beli di MP. Jatah belanja 4 orang lah. Embuhlah tuku opo wae. Sing genah dalam sebulan minimal ada 2x suara : “PAKEEETTT!” 🤣

Ngangenin banget sih suara itu. Tapi kini aku akan lebih berhati-hati. Tidak lagi bermudah-mudahan mengundang suara itu datang ke rumah lagi. 🤣

 

Karena PHK, kami jadi memikirkan ulang alokasi pengeluaran. Kemana saja pengeluaran terbesar, apakah benar-benar penting atau tidak. Apakah bisa diminimalkan atau tidak. Apakah pengeluaran itu memang kami butuhkan atau tidak. Is it worth it or not?

 

No Hutang, Biar Hidup Tenang

Salah satu skenario Allah yang kami syukuri saat suami kena PHK adalah : Tidak punya hutang. Yes, sejak tahun 2011 kami sama sekali nggak punya hutang ke orang apalagi lembaga keuangan semacam bank atau finance-finance yang kalau nagih make debt collector itu. 😷

Setelah berusaha menghindari hutang, yang kami lakukan adalah belajar konsisten menabung. Dikit tak apa, tapi rutin. Tabungan inilah yang akhirnya kami andalkan untuk biaya hidup selama suami jadi pengacara, pengangguran tapi tiap hari (p)acara(n). Wkwkwkwk…

Bukan bermaksud menyombongkan diri, tapi sungguh, nggak punya beban cicilan bulanan itu sebuah kenikmatan. Maasya Allah. Prinsip kami berdua, hidup sederhana tanpa hutang itu lebih menyenangkan daripada hidup penuh gaya tapi banyak cicilan. Kabotan gaya, bisa mumet endhasnya. Ya nggak, Nyaik?

Terima kasih, Pak Mario

 

Kurangi Insecure, Perbanyak Syukur

Pernah nggak saat liat status orang lain di medsos, tiba-tiba kita merasa insekyur pada diri sendri? Tiba-tiba terbersit tanya, “Kok aku nggak bisa kayak dia ya?”. Nah, inilah biang keladi hilangnya syukur kita pada nikmat Allah. Astaghfirullahal ‘adzim. Saya pernah begitu sih. Apalagi kalau yang dilihat di status itu highly educated women. Bahasan-nya gelar melulu, pencapaian ini-itu. Dan kok ya ndilalah dulu satu sekolahan. Ndilalah kok ya liatnya pas suami kena PHK. Aaaaa… tiba-tiba akyu merasa jadi upik abu, auto jadi remahan rengginang di toples berdebu. Hiks…

Tapi, rasa insekyur itu pelan-pelan bisa kok ditepis dengan memperbanyak syukur. Atau kalau mau setingkat lebih baik, ya buat pencapaian-pencapaian sendiri. Pencapaian yang memberikan manfaat untuk keluarga atau orang lain. Tapi tentunya dengan tidak menomorduakan kewajiban kita sebagai istri dan ibu. Kan pencapaian tertinggi kita masuk surga, yakan? Masuk surga pun kata Ustadz kan ada syarat-syaratnya. Ya itu tadi, salah satunya menuntaskan kewajiban yang Allah berikan pada kita sebagai istri juga ibu bagi anak-anak. #macakUstadzah

Lalu, gimana sih memperbanyak syukur? Banyak caranya. Kalau saya sih, tinggal banyak-banyak ‘ndungkluk’ alias menunduk. Melihat orang-orang di bawah kita yang jauh lebih ngenes nasibnya. Melihat orang-orang yang punya keterbatasan fisik. Hitung lagi berapa banyak nikmat yang sudah Allah berikan. Bersedekah pada orang lain yang butuh bantuan. Pokoknya gitu-gitu deh. Nanti Allah mudahkan hati kita untuk bersyukur. Insya Allah.

*Bersambung. Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *