Rasan-Rasan

Bekicot dan Pelajaran Tentang Berserah pada Allah

14 Oktober 2020

Dua pekan yang lalu, saya menyemai benih kembang Kertas yang saya dapat dari Bulik saya. Kembangnya indah, berwarna-warni. Saya selalu suka dengan kembang Kertas dari dulu. Tipe bunganya nggak rewel, mudah beradaptasi dengan berbagai macam tanah, dan yang pasti kembangnya kalau sudah mekar bikin hati berseri-seri. Cantik sekali. 😍

Kembang Kertas.https://generasibiologi.com/2016/03/botani-kembang-kertas-zinnia-elegans.html

Beberapa hari yang lalu, benih yang saya semai itu mulai bersemi. Cakep-cakep. Daunnya hijau kecil-kecil. Seperti bayi, lucu menggemaskan. Saya sudah membayangkan betapa indah kembang-kembang kertas itu bila sudah mekar nanti, artinya semaian saya berhasil. Saya pun senang meski baru sekedar membayangkan kembangnya.

Namun ternyata, keberhasilan itu sebenarnya adalah teguran akan kesalahan saya. Saya lupa memuji Allah. Saya lupa menyerahkan penjagaan benih itu pada-Nya. Dan saya lupa bahwa sesungguhnya benih yang tumbuh itu karena kehendak Allah, bukan karena usaha saya semata. 🙁

Maka terangkanlah kepada-Ku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya? Kalau Kami kehendaki, benar-benar kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang, (sambil berkata): “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa”. [Al-Waqi’ah: 63-67]

Allah mungkin sedang menegur saya melalui makhluknya yang bernama bekicot. Qodarullaah, sepertinya semalam bekicot-bekicot mendatangi benih kembang kertas yang sedang menampakkan daun-daun mungilnya dan memakan semua pucuk-pucuk kembang kertas saya. Semua habis dimakan. Hingga di pagi hari saya terkejut melihat kembang kertas semaian saya hanya tersisa 2 batang kecil. Hiks…

 

Habis benih kembang kertasnya…

Begitulah…

Manusia itu ya- terutama saya nih- kadang-kadang terlalu pede. Menganggap bahwa keberhasilan dalam hidup ini karena kerja keras sendiri, karena kesabaran sendiri, karena tekad sendiri, karena keshalihan sendiri. Kadang-kadang lupa bahwa ada Allah dibalik semuanya.

Betapa sering kita beranggapan bahwa setiap kesuksesan kita karena kerja keras kita. Betapa dengan mudahnya kita mengklaim bahwa setiap rejeki yang datang pada kita disebabkan keshalihan kita semata. Familiar kan dengan kalimat “Rejeki anak sholeh”? Padahal kalau Allah belum mengijinkan, ya tak akan mungkin semua itu terjadi. 😕

Hati-hati pakai kalimat ini…

Astaghfirullaah…

Besok lagi kalau nyemai benih benar-benar harus dipasrahkan pada Allah.  😇  Yang sekarang habis dimakan bekicot, semoga jadi nilai sedekah pada makhluk Allah. Aamiin…

😂

Nabi Bersabda, “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu memakannya baik manusia atau keledai atau burung kecuali itu akan menjadi sedekah baginya hingga hari kiamat.” (HR. Muslim). Baca disini : https://www.ilmukebun.com/2020/03/7-alasan-mengapa-menanam-pohon-adalah.html

Hanya Allah yang memberi kemudahan. Hanya Allah yang memberikan kesuksesan. Hanya atas kehendak Allah rejeki datang. Dan hanya atas ijin Allah setiap tumbuhan dapat tumbuh dengan sempurna. Maka seharusnya kita serahkan segala usaha dan ikhtiar kita hanya pada Allah. Bukan malah kepedean dengan usaha sendiri. Iya, nggak?😅

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *