Serial Rubijah

Serial Rubijah : Bocah Kurang Ajar!

5 Agustus 2009

Siapa sangka, garis takdir membawa perempuan yang kini berusia hampir 90 tahun itu ke sebuah desa berjuluk Pringwulung. Setelah dipersunting seorang kepala desa kala itu, Rubijah (mohon dibaca Rubiyah  ) lebih dikenal dengan nama sang suami, Bu Sastrowihardjo.

Hingga saat ini pun, tak banyak orang tahu nama Rubiyah. Ia justru populer dengan panggilan Mbah Sastro. Kadang dengan tambahan ‘galak’ di belakang namanya. Biasanya kata ‘galak’ dilontarkan oleh anak-anak yang sering terkena kopi pahit Mbah Sastro lantaran kenakalan mereka.

 

Bersama suami dan kesepuluh anaknya- kini hanya tersisa 5 orang- Mbah Sastro putri berjuang mempertahankan hidup melawan berbagai situasi jaman saat itu. Jaman pendudukan Jepang, Belanda, dan jaman-jaman setelahnya. Dan waktu pun berlalu hingga tahun 1987- kalau tidak salah- ia ditinggalkan sang suami untuk selamanya.

 

Aku ingat sekali, pernah suatu ketika saat Lebaran tiba, kira-kira 2 tahun lalu dan seluruh keluarga berkumpul di rumahnya- rumah yang menurutku memiliki lantai yang terlalu luas untuk dipel- Mbah Sastro bercerita tentang kelucuan yang ia alami di jaman Belanda. Jarang-jarang kami- anak cucu dan cicitnya- mendengar cerita lucu yang berkaitan dengan penjajahan.

 

Beginilah Mbah Sastro menuturkan kisah yang ia ceritakan lewat satu-satunya bahasa yang ia kuasai, bahasa Jawa :

“Mbiyen Mbah Kakung ki dadi mangsane londo… Dioyak-oyak arep dipateni cah…

Lha bengi-bengi, londone teko neng ngomah, podo nggowo bedhil kae, nggoleki Mbah Kakung.

Banjur Mbahmu mlayu, ndelik neng watu gedhe kulon omah kae…

Weee… lha kok Pakdhemu (berkata sambil nunjuk ke arah salah satu anaknya yang ikut menyimak cerita) malah bengak-bengok, ‘Bapak ndeyik nen mbuyi atu edhe ae yo!’ karo nuding-nuding kulon omah!”

… gandeng londo ki rakyo ra mudeng boso Jowo tur omongane Pakdhemu yo celat nganti seprene, londone yo podo meneng wae…

Aku ki nganti ketir-ketir mikir Mbahmu kakung, nek kecekel njuk kepiyee caahh…” Begitu seriusnya Mbah Sastro bercerita sembari mengelus dada.

… Sakwise londo-londo kuwi mau podo lungo- lha kuwi Pakdhemu kuwi, isih urip nganti yahmene- tak gebleki bokonge nganti kèkèjèr! Bocah kurang ajar, arep mateni bapakne dewe!”

Tak henti-hentinya Mbah Sastro menunjuk ke arah Pakdheku yang duduk di sampingku.

 

Gelak tawa pun meledak menutup cerita Mbah Sastro. Sementara itu, Pak Manto, yang berperan sebagai ‘bocah kurang ajar’ hanya meringis tak berdaya, ditertawakan seluruh anak cucu dan cicit dari ibunya sendiri.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *