Puisi

Disana Aku Belajar

24 Juli 2009

Aku belajar pada malam, saat jutaan mata terpesona pada kerlip bintang yang memamerkan parade keindahan. Dan bulan penuh bersinar.

Aku belajar pada pagi, saat matahari datang menepati janji dan awan hitam berarak pergi.

Aku belajar pada pepohonan yang menunduk diam, dan rumput yang terinjak paksa, tentang bertahan di ujung kemarau yang menusuk.

Aku belajar pada iring-iringan semut hitam,yang tak lelah bertegur sapa ditiap jejak kecil langkahnya.

Aku belajar pada kuli-kuli berkulit hitam terbakar terik siang, yang setiap hari bertarung dengan kehidupan. Tentang ribuan cara menanggung beban.

Aku belajar pada seorang anak kecil di pangkuan ibunya, tentang kejujuran pada sebuah sikap.

Aku belajar pada cericit burung-burung kecil di atap masjid, yang bertasbih tiada henti. Juga pada binatang-binatang bermata tajam, yang mengalunkan suaranya kala petang, mengiringi adzan.

Aku belajar pada lautan berhias batu karang, dan ombak yang begitu setia pada tepian.

Aku belajar pada seorang renta. Padanya yang duduk di beranda dengan lumatan sirih di mulutnya. Tentang betapa tak kuasa manusia melawan waktu.

Aku belajar pada orang-orang pongah serakah, yang dengan culas dan senyum bangga melahap emas di depan senyum getir si papa.

Aku belajar pada amarah sang api yang melalap habis sang kayu. Dan sang abu tersisa sebagai serbuk-serbuk penyesalan.

Aku belajar padamu, dia, mereka, alam, langit, bumi dan seisinya. Dan aku pun belajar pada diriku sendiri, melalui cermin yang memantulkan garis hitam dan putih wajah ini.

Merangkak, tertatih, mencoba berhias diri..

Agar menjadi pantas, dimata-Nya…

_NS_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *