Serial Rubijah

Serial Rubijah : Brownies Katresnan

9 Agustus 2009

“Cinta ibu sepanjang jalan, cinta anak sepanjang galah.”

Sepertinya ungkapan itu memang benar untuk menggambarkan cinta kasih seorang ibu. Diibaratkan seperti sebuah jalan, tanpa ujung, tanpa akhir. Begitulah cinta seorang ibu pada anak-anaknya. Tanpa melihat adanya jalan buntu tentu. Hehe… Kalaupun ada seorang ibu yang tega menyakiti buah hatinya, kurasa ada yang salah dalam diri dan kehidupan ibu itu. Entahlah.

Catatanku kali ini hanya akan bercerita tentang seorang ibu dengan cintanya yang sepanjang jalan. Ya, si ibu itu adalah Rubijah. Mbah Sastro putri, simbahku yang biasa kupanggil Simbok.

Sebenarnya, cerita ini terinspirasi dari peristiwa sederhana yang siapa saja mungkin mengalaminya. Namun bagiku, peristiwa sederhana itulah yang telah memberiku pelajaran berharga tentang cinta, yang kemudian menjadikannya bagian dari rentetan ilmu yang kelak kubutuhkan jika aku menjadi seorang ibu. Pada saatnya nanti. Insya Allah. Doakan yaa… Hihihi..

Baiklah, biar kumulai kisah kali ini dengan tiga kata ‘ajaib’: PADA SUATU HARI.

Pada suatu hari, Simbok menerima paket kiriman dari Soegiyono, putranya yang tinggal di Jakarta. Sebuah dus putih bertalikan rafia, terselip selembar pesan bertuliskan : ‘Hanya untuk Mbah putri’. Sepertinya si pengirim tahu benar, bahwa kirimannya pasti akan dibagi-bagi sampai kadang Simbok tidak kebagian sendiri. Sehingga muncul ide memberi pesan itu. Meskipun Simbok tidak bisa baca, tapi saya – yang tinggal serumah dengan Simbok- pasti akan membacanya untuk Simbok.

Dus itu kami buka bersama, berisikan sekotak brownies buatan sang menantu yang punya darah Belanda. Hanna Hendrika Anderson namanya. Ia adalah menantu Simbok, istri dari Soegiyono. Aku memanggilnya Budhe.

Budhe Hanna adalah satu-satunya menantu Simbok yang mahir membuat kue, brownies adalah kue paling spesial buatan Budhe Hanna. Dan saat itu, hasil karyanya sudah ada di depanku, seolah melambai-lambaikan tangannya menggodaku sambil berkata: ‘Ayo, santaplah aku!’. Duh, enak sekali memang brownies Budhe Hanna ini. Kadang aku ingin sekali dibuatkan sekotak besar, hanya untukku saja. Hehe…

“Jupukno lading, Nik.. “ perintah Simbok membuyarkan imajinasiku tentang sekotak besar brownies yang hanya dibuat untukku. Segera aku menuju dapur untuk mengambil pisau, dan bergegas menyerahkannya pada Simbok, agar segera dapat kunikmati juga sepotong brownies yang melambai-lambaikan tangan minta secepatnya dilahap.

“Irisen dadi enem…” lagi-lagi meluncur kalimat perintah dari mulut Simbok.

Kuturuti sajalah apa maunya.

“Saiki, sing lima disisihke. Lha sing siji irisen cilik-cilik dinggo awak dewe…” katanya lagi.

W-H-A-T??!!!

Ukuran browniesnya saja sudah kecil, diiris jadi enam bagian, lima bagian disisihkan, satu bagian dipotong lagi… Lhaahh… Cilik banget, Mbok! Hiks…

“Lhoh, sing lima nggo sopo je Mbok?” tanyaku penasaran.

“Dinggo Karno, Manto, Prapto, Giyanto, karo Makmu, Siti…” jawabnya pelan sambil memasukkan satu per satu bagian dari lima bagian brownies yang kusisihkan ke dalam plastik kecil.

“Tapi, pesen-e Budhe Hanna, ‘Nggo Mbah Sastro tok’…” kataku mencoba mengingatkan tentang selembar pesan yang diselipkan didalam dus brownies.

“Kowe kuwi durung tau ngrasakne dadi wong tuo Nik. Wong tuo kuwi nek mangan ngelingi anak. Opo sing tak pangan, anak-anakku yo kudu mangan. Sithik-o ora popo. Kuwi sing jenenge katresnan..” ujar perempuan tua itu sambil mengikat plastik-plastik berisi bagian-bagian brownies.

 

 

Simbok berfoto Lebaran bersama anak menantunya. Dari kiri ke kanan : Budhe Dini-Pakdhe Giyanto-Simbok-Pakdhe Giyono-Mak Siti.

Yaah… Pupus sudah harapan bisa makan brownies banyak-banyak. Hiks…

Sambil kulahap potongan kecil browniesku, dalam hati kubenarkan juga apa kata Simbok. Brownies katresnan. Sepotong tanda cinta kasih dari seorang ibu untuk anak-anaknya. Meski aku menikah saja belum, apalagi mersakan punya anak, tapi kayaknya kalau besok aku sudah tua, aku akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Simbok.

Ahh… perempuan tua ini meski terkadang bikin sebel, tapi selalu saja bisa memukau dengan kalimat-kalimat sederhana yang penuh makna.

Simbok, seorang ibu dengan cinta sepanjang jalan…

We love you too, Mbok… With or without that brownies!

-PWL.090809.Sun-

*kangen brownies itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *