Serial Rubijah

Mandor Masjid

11 Agustus 2009

Ini hanyalah sekelumit kenangan lamaku tentang dia yang bernama Rubijah. Kenangan yang hingga saat ini membuatku bangga sekaligus malu. Tapi mungkin rasa malu itu hanya seujung jariku bila dibandingkan dengan rasa banggaku pada sosoknya. Sosok Simbok di masa kecilku yang kalau lagi keluar galaknya, membuat aku malu pada teman-temanku. Tapi sering di saat-saat tertentu, aku pun bangga menjadi cucunya.

Kenangan ini tercipta ketika dahulu, anak-anak sebayaku masih duduk di bangku SD.  Waktu itu, musholla lawas di timur masjid Darussalam Pringwulung masih aktif digunakan. Masjid baru yang saat ini dipakai pun masih berujud tanah pekarangan. Tak tahu mengapa, kurasakan ada perbedaan pada musholla dengan masjid yang sekarang dipakai. Musholla lama- yang sempat dipinjamkan untuk didirikan panti asuhan- dulu jama’ahnya lebih banyak daripada masjid baru yang memiliki 2 lantai itu.

Dahulu di musholla, ketika Ramadhan tiba, rasa-rasanya bangunan tuanya hendak rubuh karena saking banyaknya jama’ah yang datang untuk buka bersama atau shalat berjama’ah. Apalagi ketika datang waktu sholat Jum’at, serambi penuh sebelum khotib membaca khotbah. Bahkan pernah suatu kali, ruang tamu rumah Simbok disulap menjadi tempat shalat bagi mereka yang kehabisan shaf di serambi masjid.

Terlepas dari kenyataan bahwa musholla lama memang lebih kecil dibandingkan masjid baru sehingga mungkin tampak memiliki jama’ah yang lebih banyak. Jadi terlihat mbludak. Padahal itu karena kurang luas tempatnya saja. Hihi…

Di musholla itulah, sebentuk bangga menyeruak, diiringi rasa malu tentu. Memori otakku telah menyimpan kenangan itu dalam bingkai yang terlalu indah untuk dilupakan begitu saja.  Dan dialah Rubijah- Simbok- yang menjadi pemain utama dari sebuah kisah itu.

Berawal dari mereka, teman-teman sebayaku, yang gemar sekali berolahraga didalam masjid. Mereka berlari-larian kesana kemari. Bermain petak umpet Saling berkejaran dan tak henti-hentinya membuat kegaduhan. Sementara aku, hanya duduk menyaksikan. Karena sejak berangkat dari rumah aku sudah mendapat peringatan keras untuk menjadi ‘anak anteng’. “Kalau di masjid, anteng!” pesan bapakku.

Dan kisah pun dimulai. Sore hari, di bulan Ramadhan, ba’da shalat Ashar.

Teman-teman hebatku berlari berkejaran memainkan sebuah permainan paling seru di dunia: Candhak Ndodok! Duh… apa ya bahasa Indonesia-nya Candhak Ndodok? Yang jelas, aturan mainnya adalah berlarilah sebelum tertangkap dan kalah.

Anak-anak hebat pun semakin asyik berlarian mengitari setiap sudut di dalam masjid. Aku sebagai penonton rasanya ingin sekali bergabung dengan mereka dan menggaduhkan dunia!

Namun menjadi suporter pun tak kalah menyenangkan. Bermodalkan tepukan tangan, aku dan beberapa teman anteng-ku menyoraki mereka para pemain Candhak Ndodok terhebat.

 

Suasana di masjid benar-benar kacau, gaduh, tapi seru bukan main. Sebuah pertunjukan ala anak-anak ngglidhig yang rajin mengaji sedang berlangsung. Dan aku, termasuk ambil bagian dalam kerusuhan itu, meski hanya bertepuk tangan. Hahaha…

 

Lalu, tanpa prediksi sama sekali, Simbok muncul dari pintu sebelah kanan!

Bersenjatakan sapu lantai di tangan kanannya, dan dengan mimik wajah bagai pemburu jitu, ia berteriak lantang :

“HEEHHH! MEJID KI DINGGO SHALAT! ORA DINGGO PEPLAYON! BOCAH DO RA NGGENAH KABEH! ISO DO LÈRÈN ORA?!

*Heehhh… Masjid itu tempat sholat! Bukan tempat lari-larian! Bocah kurang ajar semua! Bisa berhenti ngga?!

 

Seketika itu juga, para pelari dalam masjid diam mematung. Para supporter, termasuk aku, duduk melongo. Aku dan beberapa temanku lalu berpura-pura menjadi anak-anak anteng kembali.

Hahaha… kasihan sekali mereka yang berada di posisi pemain Candhak Ndodok itu. Wajah mereka seperti usai melihat hantu!

Dan permainan pun berakhir tanpa skor!

 

Sementara aku, di dalam masjid, harus menghadapi jutaan komentar teman-temanku tentang nenekku, Simbok.

Komentar-komentar itu berujung pada satu kesimpulan paling penting sepanjang sejarah kanak-kanakku :

MBAH SASTRO GALAK.

 

-PWL.11.Agt.2009.Tues-

*Sampai saat ini, kata ‘Galak’ masih tersemat di belakang namanya. Bahkan anak-anak kecil tetangga saya sering mengurungkan niatnya main bola di halaman rumah Simbok ketika beliau sedang leyeh-leyeh di terasnya. Takut diteriakin lalu bolanya disita. Hahaha…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *