Rasan-Rasan

My son is perfect, no matter what they say!

29 November 2011

 

Menjadi ibu adalah hal terindah yang pernah saya alami. Satu pengalaman indah dan menakjubkan! Pokoknya susyah diterjemahkan rasanya… Apalagi ini pengalaman pertama saya memiliki seorang anak. Rasanya antara percaya dan masih tak percaya. Bahkan hingga kini ketika saya menatap mata Sultan Muhammad Fatih Aljabir, anak pertama saya, rasanya masih tak percaya juga. Maasya Allah, penantian 7 bulan setelah menikah akhirnya Allah kabulkan. Luar biasa dahsyat!

Minggu-minggu pertama kelahiran anak tercinta, pasti banyak orang berkunjung. Entah keluarga, saudara, kerabat, teman bahkan orang yang tak dikenal. Kebahagiaan pun bertambah manakala mereka yang datang berkunjung menyampaikan rasa turut berbahagia dan berkenan mendoakan anak kita. Apalagi kalau ditambah bawain hadiah dan buah tangan. Hihihi.. Nambah lagi deh bahagianya. *Ups!

 

Namun jujur, saya sedikit tidak nyaman ketika ada beberapa orang yang datang berkunjung, lalu dengan tanpa basa-basi meluncurkan komentar-komentar tentang anak saya. Hmm… kalau yang ini saya kira semua ibu pasti merasakan hal yang sama. Mana ada ibu yang suka bila anaknya dikomentarin. Apalagi komentar-komentar sotoy, alias sok teu. Ya nggak sih, Mak?

 

Emangnya komentar apa sih? Macam-macam…

Semisal, ”Lhoh kok kulitnya item begitu, dulu waktu hamil ibunya jarang minum air degan ya?”

“Lhoh, kok abis lairan duduknya begitu, nanti kakinya bengkak.” Padahal saya lagi pewe banget duduk nyender dengan kaki selonjor begitu. Maklum, sambil nyusuin.

Lalu ada lagi, ”Lhoh kok bayinya cuma segitu beratnya, dulu pas hamil maemnya dikit ya?”.

”Lhoh kok bisa maju lahirnya, kecapekan ya?”.

“Wah, rambutnya kriwil, ini kayak ayahnya apa ibunya. Dulu nggak minum air kacang hijau ya?”.

”Lhoh kok begini…”,

”Lhoh kok begitu…”

Dan lhoh kok-lhoh kok lainnya. *halahiyyungalah.

Capeh deeehhhh…

Hadeeehhh… saya sebenarnya tidak terlalu tersinggung dengan komentar-komentar begitu. Memang anak saya sesuai dengan apa yang mereka komentarkan. Hanya risih. Dan kerisihan itulah yang memotivasi saya untuk menuliskan catatan ini. Catatan yang hanya sekedar untuk mengingatkan kita semua, bahwa kita harus berhati-hati berkomentar saat mengunjungi bayi yang baru lahir.   Bila kita ingin berkomentar, katakan yang baik-baik saja. Kalau pun ada yang kurang sreg, alangkah lebih baik simpan di dalam hati saja, jangan sampai kita ucapkan di depan ibunya.

 

Coba bayangkan bila kita berada di posisi si ibu, orang yang bertaruh nyawa melahirkan anaknya, pasti kita akan merasakan betapa sedihnya ia. Sedih karena anak yang ia lahirkan dengan nafas ngos-ngosan hampir putus dikomentari bak komentarnya juri yang sedang meng-audisi penyanyi. *njelei kan?   Semoga menjadi pelajaran untuk kita semua- terutama saya- bahwa setiap anak terlahir sempurna. Once again, SEMPURNA! Apa pun bentuk wajahnya, warna kulitnya, tipikal rambutnya, dsb.

 

Jadi, saat kita sedang mengunjungi bayi, tak perlu rasanya berkomentar ini-itu tentang fisik si bayi. Cukup doakan agar si anak menjadi anak yang sehat dan sholih/ah, katakan yang baik-baik, atau bila tak bisa, cukup sampaikan rasa senang kita atas kelahirannya.   Mengomentari fisik- yang kurang enak didengar- justru akan menambah tabungan dosa kita. Saya ingat sekali perkataan suami saya, saat kita melihat fisik seseorang, jangan kita mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya. Ibarat sebuah lukisan, bila kita mencela lukisan itu, siapa yang akan marah? Tentu pelukisnya bukan?

 

Lalu bayangkan, bila kita mencela fisik manusia, siapa yang akan marah? Ya pencipta si manusia. Siapa dia? Tak lain dan tak bukan adalah Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau Allah marah pada kita lantaran kita mencela ciptaan-Nya bagaimana? Nah lhoh… Naudzubillahi min dzalik….

 

-laqad khalaqnaa l-insaana fii ahsani taqwiim-

”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (At-tiin: 4)  

 

Allah saja sudah mewanti-wanti kita melalui surat-Nya, bahwa manusia telah Dia ciptakan dengan sebaik-baik bentuk. Lalu untuk alasan apa kita menilai warna kulit, bentuk hidung, tipe rambut, dll?

 

Yogyakarta, 29 November 2011.

*Ditemani si kecil yang bobok di samping saya. Tak terasa, tepat hari ini ia berusia 2 bulan. Sehat-sehat ya, Nak… Emuach.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *